Duka itu akan hilang dan tenggelam bak ditelan bumi. Namanya hilang dan akan dilupakan seiring berjalannya waktu.

Pertandingan akan kembali ramai dan penuh sesak para penonton yang hadir. Suporterpun menyanyikan yel-yel dan bersorak sorai disetiap sudut dan seisi tribun stadion. Tapi Ibundanya, akan membenci sepakbola sepanjang hayatnya.
Kasihan mereka yang kehilangan anaknya, suaminya, istrinya, ibunya dan bapaknya. Kejadian ini seolah membuka tabir derita yang tak kunjung usai, entah sampai kapan persepakbolaan Indonesia akan hadir rasa nyaman, damai dan aman.
Ratusan nyawa yang hilang sia-sia, tak sebanding dengan harga pertandingan sepakbola bahkan tak seharga dengan kemenangan sebuah tim sepakbola.
Apalah arti kemenangan jika harus ada nyawa yang melayang dan banyak korban yang berjatuhan. Kemenangan dan kekalahan merupakan konsekuensi dalam sebuah pertandingan yang dimainkan.
Dinamika akan selalu hadir baik sebelum pertandingan, saat pertandingan hingga berakhirnya pertandingan.
Evaluasi, evaluasi dan lagi evaluasi, mungkin hanya sebatas slogan, jelas klise kalau evalusinya hanya dipermukaan saja.
Kalaupun ingin evaluasi, harus menyeluruh dan totalitas, jangan hanya berhenti di akar rumput.
Lalu, hanya bisa menyalahkan dan menghukum yang paling rentan, sama sekali tidak tersentuh kepada yang mempunyai otoritas (kewenangan) dan hanya keluar respon untuk saling berbasa-basi dengan ucapan turut berbela sungkawa.
Sanksi-sanksi jangan hanya sebatas simbol, yang tidak memberikan dampak yang positif untuk perubahan ke arah yang lebih baik.
Maka, sanksi yang diberikan harus dibarengi dengan capaian dan tujuan nyata yang konkrit. Tidak hanya memberikan efek jera semata, namun dapat menjadi pesan moral dan edukasi bagi semua pihak, terlebih kepada masyarakat dan yang mempunyai kepentingan akan hal ini, tentu harus berdampak positif menuju ke arah yang lebih baik.
Saya tidak dalam ranah untuk saling menyalahkan, menghakimi maupun mengadili, tapi setidaknya semua pihak yang relevan dengan pertandingan harus turut andil dan terlibat langsung dalam tanggung jawab bersama dan tidak lepas tangan begitu saja, melarikan diri dari tanggung jawab.
Mari kita kawal bersama dan usut setuntas-tuntasnya tragedi ini. Agar kasus ini dapat terbuka seterang-terangnya. Siapapun pihak yang terlibat, wajib bertangung jawab atas tragedi ini.
Sebagai bentuk kepedulian terhadap sesama, LBH GP Ansor Kabupaten Subang turut berbela sungkawa yang mendalam untuk semua korban meninggal dunia atas tragedi di Stadion Kanjuruhan Malang.
Semoga korban yang meninggal dunia ditempatkan ditempat terbaik disisi Alloh SWT dan keluarga korban diberikan kekuatan, kesabaran dan keikhlasan dari Alloh SWT atas musibah ini. Lalu semoga korban yang masih dalam perawatan semoga dapat kembali pulih. Amin.
Terakhir kita berharap, semoga dikemudian hari tidak terulang lagi, hal yang serupa dan tidak ada lagi korban yang meninggal sia-sia dari sepak bola. Dan semoga persepakbolaan Indonesia dapat mengambil hikmah dari tragedi ini. Amin.
Sadath M. Nur, SHI., MH (Ketua LBH GP Ansor Kabupaten Subang). Yang juga sebagai Bobotoh dan pecinta sepakbola. Dosen dan Pengacara.
