Tradisi Haul Tidak Ada Dalilnya?

Share to :

Peringatan Haul merupakan tradisi yang kerap dilaksanakan oleh ummat Islam di Indonesia pada umumnya, Khususnya di Pesantren Pagelaran 3. Arti kata haul sendiri menurut Bahasa artinya satu tahun, sebagaimana kita ketahui bersama salah satu ketentuan wajib zakat maal adalah mencapai haul yang artinya harta tersebut telah mengendap selama satu tahun. Dengan begitu secara istilah peringatan haul adalah, peringatan hari wafatnya seseorang dalam hitungan tahun.

Tradisi yang berjalan di masyarakat dalam pelaksanaannya biasa mengundang sanak famili serta kerabat untuk berkumpul bersama, lalu dalam perkumpulan tersebut dibacakan silsilah Yaasin dan tahlil serta dzikir-dzikir lainnya.

Tradisi ini berkembang turun-temurun di Pesantren Pagelaran 3. Dalam tulisan ini akan dipaparkan secara singkat hikmah haul:

1. Sebagai Ajang Silaturahim

Kesibukan dan aktifitas kita sebagai manusia di muka bumi ini sangat beragam, sampai-sampai terkadang kita jarang bersilaturrahim atau sekedar berkunjung menemui sanak famili atau kerabat dan sahabat. Dengan mengadakan peringatan haul, lalu kita mengajarkan anak kita untuk dapat hadir apalagi jika para kerabat berkumpul, hal yang demikian dapat merekatkan kembali tali silaturrahim yang lama terpisah.

Sebagai ummat Islam, kita sering mendegarkan sabda baginda Nabi Besar Muhammad Saw yang menyebutkan keutamaan menyambung silaturrahim dalam sabdanya:

Dari Abu Hurairah radiyallahu ‘anhu, ia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Siapa yang ingin dilapangkan rezekinya dan dipanjangkan umurnya maka hendaknya ia menyambung silaturrahminya”

Dengan bertemu saudara, kerabat bahkan keluarga lainnya saat peringatan haul, secara tidak langsung kita menjalin tali silaturrahim yang mungkin selama ini renggang. Maka dari itu kegiatan haul merupakan kegiatan yang sangat positif dari kacamata pendikan, karena didalamnya tersirat akan Pendidikan moral yang menyeluruh.

2. Sebagai upaya berdzikir kepada Allah Swt secara Bersama-sama

Dalam kegiatan ini, diadakan juga pembacaan Ayat Suci Al-Qur’an dan Tahlil Bersama-sama. Yang mana kita ketahui bersama, membaca Al-Qur’an pahalanya sangat tinggi di sisi Allah Swt. Pada peringatan haul, Ayat Suci Al-Qur’an dan tahlil dibaca bersama-sama atau berjamaah. Pastinya, keberkahan yang didapat berbeda jika dibandingkan saat kita melaksanakannnya sendiri-sendiri.

Dalam sebuah hadits disebutkan fadhilah dari pada berdzikir Bersama sebagaimana berikut:

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Allah berkata, ‘Lalu dari apa mereka meminta perlindungan?’ Mereka menjawab, ‘Dari api neraka.’ Allah berkata, ‘Apakah mereka melihatnya?’ Mereka menjawab, ‘Tidak, demi Allah, mereka tidak melihatnya.’ Allah berkata, ‘Bagaimana seandainya mereka melihatnya?’ Mereka menjawab, ‘Seandainya mereka melihatnya, pasti mereka sangat bersungguh-sungguh lari darinya dan sangat takut kepadanya.’’

Dari Abu Hurairah radhiyallahu‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sesungguhnya Allah memiliki malaikat yang berkeliling jalan-jalan mencari ahli dzikir. Jika mereka menemukan satu kaum yang sedang mengingat Allah, mereka berseru, ‘Marilah kalian menuju kebutuhan kalian.’ Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Lalu para malaikat itu mengelilingi mereka dengan sayap-sayapnya sampai langit dunia.”

Rasulullah shallallahu‘alaihi wa sallam melanjutkan, “Kemudian Rabb mereka bertanya kepada mereka,–dan Dia lebih tahu dari mereka–, ‘Apa yang dikatakan hamba-hamba-Ku?’ Mereka berkata, ‘Mereka bertasbih memahasucikan-Mu, bertakbir mengagungkan-Mu, bertahmid memuji-Mu, dan memuliakan-Mu.’ Lalu Allah berkata, ‘Apakah mereka melihat-Ku?’ Mereka menjawab, ‘Tidak, demi Allah, mereka tidak melihat-Mu.’ Allah berkata, ‘Bagaimana seandainya mereka melihat-Ku?’ Mereka menjawab, ‘Seandainya mereka melihat-Mu, pasti mereka sangat bersungguh-sungguh beribadah kepada-Mu, sangat bersungguh-sungguh memuliakan-Mu, dan lebih banyak bertasbih kepada-Mu.’’

Rasulullah shallallahu‘alaihi wa sallam melanjutkan, “Allah berkata, ‘Lalu apa yang mereka minta kepada-Ku?’ Mereka menjawab, ‘Mereka meminta surga kepada-Mu.’ Allah berkata, ‘Apakah mereka melihat surga?’ Mereka menjawab, “Tidak, demi Allah, wahai Rabb, mereka tidak melihatnya.’ Allah berkata, ‘Bagaimana seandainya mereka melihatnya?’ Mereka menjawab, ‘Seandainya mereka melihatnya, mereka pasti sangat bersungguh-sungguh untuk mendapatkannya, sangat bersungguh-sungguh untuk memintanya, dan sangat menginginkannya.’’

Beliau melanjutkan, “Allah berkata, ‘Maka Aku persaksikan kepada kalian sesungguhnya Aku telah mengampuni mereka.’ Salah satu malaikat pun berkata, ‘Namun, di antara mereka ada si fulan dan ia bukan bagian dari mereka. Ia datang hanya karena ada keperluan.’ Allah menjawab, ‘Mereka semua adalah teman duduk, dan tidak ada sengsara orang yang duduk bermajelis bersama dengan mereka.’” (Muttafaqun ‘alaih) (HR. Bukhari, no. 6408 dan Muslim, no. 2689).

Dari hadits di atas, kita mengetahui bahwa keutamaan dzikir berjamaah sangat luar biasa, bahkan orang yang iseng tidak bermaksud duduk mengikutinya pun mendapat ampunan dari Allah Swt. Maka dari itu, sebagai pendidik, apalagi orang tua hendaknya kita membiasakan anak-anak kita untuk hadir dan cinta kepada majelis-majelis dzikir, baik itu peringatan haul, maulid ataupun majelis dzikir lainnya.

3. Bagian dari mengingat kematian

Dalam peringatan haul yang diperingati adalah hari wafatnya seseorang. Khususnya di Pesantren Pagelaran 3 haul almaghfurlah Mama Pagelaran (KH. Muhyiddin) & KH. Oom Abdul Qoyyum Muhyiddin. Dari kegiatan tersebut, kita dapat mengambil pelajaran bahwa hidup yang Allah Swt kepada kita amatlah singkat dan terbatas.

Oleh sebab itu, melalui peringatan ini kita hendaknya lebih merenungkan dan banyak mengingat akan kematian yang pasti datang. Rosulullah Saw. bersabda:

Dari Abu Hurairah, Nabi Muhammad Saw bersabda : “perbanyaklah mengingat penghancur segala kenikmatan (yang dimaksud adalah kematian); tidak lah seorang hamba mengingatnya dalam keadaan sempit, (maka dengan mengingat kematian) akan meluaskannya, dan tidaklah seorang hamba mengingatnya di saat lapang kecuali (dengan mengingat kematian) akan menyempitkannya.

Maksud dari pada hadits di atas adalah, di saat kita sedang dalam keadaan sulit, sempit bahkan terhimpit dengan segala macam problematika hidup, hendaklah kita mengingat kematian. Dengan kita mengingat kematian, kita akan menyadari bahwa cobaan yang ada sifatnya sementara serta yakin semuanya akan ada akhirnya. Maka dengan begitu, kita akan lebih mudah berserah diri kepada Allah Swt. Di saat sandaran hanya Allah Swt, maka ketika itu pula Allah Swt akan melapangkan dada kita, beban terasa hilang dan masalah akan menemukan jalan keluarnya atas izin Allah Swt.

4. Ajang bersedekah dan menebar amal sholeh

Dalam peringatan haul sudah menjadi tradisi, keluarga yang diperingati haulnya khususnya di Pesantren Pagelaran 3 selalu ada jamuan makan bersama dalam acara tersebut. Memberi makan pahalanya amat besar di sisi Allah Swt.

Hadits 1:

Dari Abdullah bin Amr bin Al-Ash R.A, bahwa ada seorang laki-laki bertanya kepada Rosulullah Saw: “Islam seperti apa yang baik, wahai Rosulullah Saw? (lalu Rosulullah Saw menjawab: berikanlah makan, dan ucapkanlah salam kepada (muslim) yang kamu kenal ataupun yang tidak kamu kenal (HR. Bukhori & Muslim)

Hadits 2

Rosulullah Saw bersabda : “amalan yang paling dicintai oleh Allah Swt adalah kegembiraan yang kamu terbarkan kepada saudaramu sesama muslim, mengeluakannya dari kesulitan (kesengsaraan), menghilangkan darinya kelaparan, atau melunasi hutang-hutangnya”.

Dengan berbagai penjelasan di atas, peringatan haul meramu berbagai amal sholeh dalam satu kegiatan yang dilaksanakan berjamaah. Pastinya dalam peringatan tersebut turun rahmat, karunia dan berkah dari pada Allah Swt.

Penulis: Dr. (Cand) Afif Nurseha, M.Pd, Ketua Jurusan PAI STAI Riyadlul Jannah Jalancagak, Subang