Sunan Rumenggong Garut, Sosok yang Diduga sebagai Prabu Siliwangi dan Kakek Raden Fatah

Share to :

Jejak Kerajaan Pajajaran dan Prabu Siliwangi sampai hari ini belum diketahui secara gamblang. Sebagian besar sejarah meyakini bahwa Prabu Siliwangi melakukan moksa dan menghilang bersama kerajaan Pajajaran berikut masyarakatnya sehingga wajar saja jika jejaknya sulit ditemukan.

Makam Sunan Rumenggong di Limbangan, Garut

Sejarah yang sudah mengakar di tengah-tengah masyarakat Jawa Barat tersebut mengusik pikiran Navida Febrina, seorang mahasiswi Sekolah Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Hal itu kemudian medorongnya untuk melakukan penelitian berbentuk tesis yang diberi judul Masalah Keagamaan dan Genealogi Raden Fatah (1483-1518) sebagaimana terdaftar dan tersimpan pada arsip digital milik kampus UIN Jakarta dalam situs repository.uinjkt.ac.id.

Dalam penelitiannya, Navida menyoroti latar belakang masalah sejarah yang mengungkapkan bahwa terjadi perbedaan pendapat mengenai sosok Raden Fatah, Raja Kesultanan Islam Demak Bintoro yang disokong oleh Wali Songo. Selama ini Raden Fatah tercatat sebagai penerus dari Kerajaan Hindu Majapahit. Selain itu silsilah dan riwayat Raden Fatah ditulis sebagai putra Raja Hindu Majapahit terdapat perbedaan dalam penulisan sejarah.

Sebagaimana tercatat dalam abstrak tesis tersebut, Navida mengutip temuan H.J De Graaf dan TH. Pigeaud yang menyebutkan bahwa menurut cerita tradisi Mataram Jawa Timur, Raja Demak yang pertama adalah Raden Fatah, putra Raja Majapahit yang terakhir yang dalam legenda bernama Brawijaya.

Sementara itu, sejarawan NU Agus Sunyoto mengungkapkan bahwa ada perbedaan pendapat mengenai sosok Prabu Brawijaya yang menjadi ayahanda Raden Fatah. Sebagian menyatakan ia adalah Prabu Kertawijaya Maharaja Majapahit yang berkuasa pada 1447-1451 M, sebagian lagi menyatakan Kertabumi, Maharaja Majapahit yang berkuasa 1474-1478 M.

Dalam penelitian yang menggunakan metode kualitatif dengan model kajian pustaka ini. Navida mengutip 2 sumber yaitu primer menggunakan Suma Oriental karya Tome Pires: Perjalanan dari Laut Merah ke Cina dan Buku Francisco Rodrigues disunting oleh Armando Cortesao dan sekunder menggunakan catatan-catatan Ulama dari Sukapura, Limbangan, dan Sumedang, kitab-kitab ulama, buku-buku para sejarawan, dan tulisan ilmiah.

Setelah disesuaikan antara tulisan Tome Pires dan tulisan para Ulama, Navida menyimpulkan bahwa Raden Fatah adalah keponakan dari Bujangga Manik alias Arya Damar dari Palembang. Arya Damar adalah anak dari Sunan Rumenggong, berarti Raden Fatah cucu dari Sunan Rumenggong. Raden Fatah adalah putra dari Kertabumi alias Prabu Cakrabuana III alias Brawijaya V alias Siliwangi V.

Sunan Rumenggong adalah cucu dari Syekh Jumadil Kubro. Sunan Rumenggong pernah menjadi Penguasa Cirebon yang berkedudukan di Sindangkasih. Maulana Malik Ibrahim memiliki 2 putra yaitu Sunan Ampel dan Sunan Santri alias Sunan Rumenggong. Saat itu, Gresik menjadi pusat agama Islam tertua di Jawa Timur dan Maulana Malik Ibrahmi bermakam di Gresik.

Sunan Rumenggong ditugaskan ke Sunda dan pernah berkuasa di Cirebon, sedangkan Sunan Ampel ditugaskan ke Jawa. Dengan demikian, susunan Silsilah Raden Fatah adalah:

  1. Syekh Ahmad Jalaludin, berputra
  2. Syekh Jamaludin Al Akbar/Syekh Jumadil Kubro, berputra
  3. Barakat Zainal Alam, berputra
  4. Maulana Malik Ibrahim, berputra
  5. Sunan Rumenggong, berputra
  6. Prabu Cakrabuana III, berputra
  7. Raden Fatah

Prabu Susuk Tunggal merupakan putra dari Prabu Taji Malela. Sunan Rumenggong menantu dari Prabu Taji Malela, berarti Prabu Susuk Tunggal saudara ipar dengan Sunan Rumenggong. Prabu Susuk Tunggal memiliki anak bernama Ki Amuk Marugul dan Ki Amuk Marugul memiliki anak bernama Ki Ageng Japura. Dengan demikian berdasarkan silsilah Raden Fatah versi tulisan Ulama bahwa Raden Fatah sepupu dari Ki Ageng Japura/Pate Japura.

Selain itu, Navida juga menyimpulkan bahwa Raden Fatah adalah penguasa di Negeri Demak dan pate tertinggi di Jawa. Raden Fatah memiliki hubungan yang erat dengan para penguasa di Jawa, semua putri dari ayah dan kakeknya menikah dengan pate-pate tertinggi. Raden Fatah sangat dihormati. Mereka adalah orang-orang Moor (Islam) atau pengikut Nabi Muhammad SAW.

Jika mengacu dari Silsilah Raden Fatah yang sudah dijelaskan, tentu ada hubungan kekerabatan yang erat dengan tokoh-tokoh Walisongo. Misalnya, Sunan Kalijaga adalah keponakan dari Raden Fatah, Raden Fatah dan Sunan Gunung Jati I adalah cucu dari Sunan Rumenggong.

Silsilah dari Raja Daha yaitu Batara Vojyaya dan patihnya Guste Pate bernama Pate Amdura, tidak memiliki hubungan keluarga dengan Raden Fatah. Sedangkan tulisan tentang hubungan kekerabatan antara pate-pate Moor dengan Raden Fatah detail dan rinci.

Raden Fatah memiliki keterkaitan kerabat dengan Pati Unus dan kakeknya dari Gresik. Sebaliknya, bahwa Raja Daha Batara Vojyaya adalah musuh dari Raden Fatah dan pihak Daha sering melalakukan penyerangan terhadap Demak. Dengan demikian, menurut Navida, tidak bisa disimpulkan bahwa Batara Vojyaya sebagai tokoh ayah Raden Fatah dan disamakan dengan tokoh Brawijaya.

Raden Fatah sangat berkuasa sehingga mampu menaklukkan seluruh wilayah Palembang, Jambi, Kepulauan Manomby, dan banyak pulau lainnya. Ayah dari Raden Fatah memiliki hubungan kekerabatan dengan pate-pate tertinggi di Jawa dan tokoh yang sangat berkuasa.

Sementara tidak ada catatan yang menuliskan bahwa Batara Vojyaya memiliki kaitan nasab atau silsilah dengan Raden Fatah. Batara Vojyaya hanya menguasai Kerajaan Jawa Pedalaman alias Kerajaan Hindu Daha yang hanya menguasai sebagian wilayah Jawa Timur dan Bali. Ayah Raden Fatah dahulunya mengumpulkan kapal jung sebanyak 40 buah kapal. Sedangkan Batara Vojyaya tidak memiliki banyak jung dan penguasaan pelabuhan yang banyak.

Dengan demikian, kedudukan Raden Fatah adalah sebagai pate tertinggi di Jawa dan memiliki hubungan kekerabatan yang erat dengan pate-pate Moor tertinggi di Jawa. Raden Fatah tidak memiliki hubungan nasab atau silsilah dengan Raja Hindu Daha yaitu Batara Vojyaya dan patihnya Guste Pate. Guste Pate sering melakukan penyerangan dengan Demak.

Baca juga: Kitab Qosidah Burdah dalam Aksara Pegon Sunda

Penelitian Navida ini termasuk temuan baru yang sangat berbeda dengan kajian sejarah selama ini. Konsekuensi yang harus dihadapi mungkin saja akan berhadapan dengan peneliti sejarah fanatik yang memegang pada konten sejarah mainstream. Namun demikian, penelitian Navida ini sudah lolos dari sejumlah ujian akademik sehingga jika ada bantahan mesti melewati kajian-kajian akademik.

Wallahu a`lam.