Sikap Nyaman Menghadapi Covid-19

Share to :

Oleh: Fuad Nawawi*

Ramadhan tahun ini masyarakat dunia diliputi wabah Covid-19, tak terkecuali Indonesia. Upaya pencegahan pun dilakukan pemerintah melalui penerbitan surat edaran tentang segala aktivitas ramadhan yang melibatkan orang banyak seperti shalat jumat atau shalat tarawih  tidak dilakukan di dalam masjid.

Wabah Covid-19 membuat sebagian orang merasa kehilangan banyak kesempatan mendapat pahala ibadah. (Foto: NU Online)

Surat edaran tersebut kurang efektif di sebagian masyarakat. Semangat keagamaan masyarakat tidak bisa dibendung hanya dengan selembar surat edaran.

Tidak jarang persoalan wabah ini dikaitkan dengan takdir. Apakah segala sesuatunya sudah ditetapkan, sehingga kalau Allah sudah menetapkan, manusia susah menghindar? atau segala sesuatunya tergantung manusia? Persis dua pertanyaan itu yang menjadi konflik tua sampai sekarang yang tidak/belum tuntas.

Dalam tulisan ini, saya tidak berpretensi menuntaskan, hanya memberikan perspektif, yang mungkin saja memberikan rasa nyaman, minimal untuk konsumsi saya sendiri.

Allah menganjurkan kepada kita dalam bersikap dan memandang apapun berada di tengah-tengah, bersikap moderat (QS. al-Baqarah [2]: 143), termasuk, menurut saya, dalam menyikapi wabah Covid-19 ini. Kita tidak dianjurkan bersikap cemas, namun kita juga tidak dianjurkan berjiwa jumawa atau sombong bahwa kita tidak akan terkena wabah Covid-19.

Sikap moderat dalam konteks wabah ini setidaknya mempunyai dua sikap, sikap pertama  kita berserah diri kepada Allah,  karena segala sesuatunya sudah ditetapkan Allah (QS. at-Taubah [9]: 51). Dengan kepasrahan kepada Allah, kita sebenarnya membuat pengakuan bahwa kita ini makhluk lemah, tidak punya kekuatan apapun kecuali dengan pertolongan Allah.

Sikap kedua kita tetap harus berupaya melakukan sesuatu agar terhindar dari wabah, tidak boleh menyerah begitu saja. Kita berusaha menghindar dari wabah juga merupakan perintah Allah (QS. an-Nisa [4]: 29).

Usaha itu ada yang bersifat lahir: ketika sakit, kita berobat, ketika ada wabah, kita berusaha menghindar. Termasuk usaha lahir lainnya: menjaga pola hidup sehat, sosial distancing dan sebagainya. Ada juga yang bersifat batin, yakni dengan memperbanyak doa kepada Allah.

Saya memahami sikap pertama berada pada level hakikat dan sikap kedua berada pada level syariat. Keduanya harus berada dalam satu tarikan nafas, berjalan secara bersamaan.

 

Cirebon, 02 Ramadhan 1441 H

*Ketua Yayasan Pendidikan Alhidayah Desa Kihiyang & Dosen IAIN Syekh Nurjati Cirebon