PWNU Jabar Tetapkan Kota Bandung Jadi Lokasi Konferwil XVIII

Share to :

Bandung, NU Subang Online

Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Barat memutuskan lokasi pelaksanaan Konferensi Wilayah (Konferwil) XVIII akan digelar di Kota Bandung. Pernyataan ini disampaikan oleh Ketua Pelaksana Konferwil KH Abu Bakar Sidik, usai menggelar rapat perdana panitia di Kantor PWNU Jabar, Sabtu (4/9/2021).

“Tempat (Konferwil, Red) di hotel, cuman untuk hotel mana belum, dan tapi yang jelas di Kota Bandung,” ungkap kiai yang akrab disapa Kang Bakang ini sebagaimana dilansir dari NU Online Jabar.

Dalam kegiatan yang dilakukan secara luring dan daring tersebut, Kang Bakang menyampaikan bahwa penyelenggaraan konferwil tersebut mestinya dilaksanakan di pesantren sesuai dengan platform NU. Namun karena kondisi darurat, sehingga diputuskan pelaksanaan Konferwil ini tidak di pesantren.

“Dan untuk waktunya masih tetap dilaksnakan tanggal 30-31 Oktober,” tutur Kang Bakang.

Wakil Ketua PWNU Jawa Barat tersebut menjelaskan bahwa tema Konferwil kali ini adalah Kemandirian NU untuk Kemaslahatan Umat.

“NU itu harus jadi organisasi yang mandiri, dia harus mencari secara mandiri, tidak membebani orang banyak, dan kemandirian itu bukan untuk memperkaya NU, bukan untuk memperkaya pribadi-pribadi pengurus, tapi kemandirian NU itu untuk kemashlahatan umat,” tegasnya selaku Wakil Ketua PWNU Jawa Barat tersebut.

Pokoknya, kata dia, kita itu khidmat kepada umat. Akan tetapi, khidmat kepada umatnya kan baru terasa kalo kita sudah mandiri, baik secara metodologi, manhaji, dan lain sebagainya, sehingga NU memiliki platform tersendiri yang memang mandiri dan sudah menjadi ciri khas NU.

“Masalah kemandirian itu bukan hanya soal duit ya, bukan hanya soal ekonomi. NU itu ya mandiri dalam segala hal, tapi memang dalam konteks keumatan, umat berharap kita mandiri juga secara ekonomi, karena itu NU akan berusaha bagaimana menghubungkan masyarakat dengan stakeholder, dan yang lain-lain,” tambahnya.

Ia berharap, semoga dengan cara-cara tersebut bisa menghubungkan masyarakat dengan stakeholder yang dibutuhkan.

“”Kemandirian itu penting sekali. Dalam fikih, kemandirian itu melahirkan hurriyyah atau kemerdekaan. Hanya orang yang merdeka yang bisa bermuamalah,” pungkas Kang Bakang