Kisah Dai Kader Pesantren yang Berdakwah di Papua

Ahmad Baso
Share to :

Ahmad Baso

Subang, nusubang.or.id

Berdakwah atau mengajak menuju jalan Allah mestinya dilakukan dengan cara yang lemah lembut apalagi bagi mereka yang sama sekali belum mengenal Islam, hal ini sebagaimana perintah Allah Swt yang disampaikan dalam Al-Quran Surat Annahl ayat 125;

ادْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ ۖ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ ۚ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيلِهِ ۖ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ

Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.

Dalam melaksanakan perintah tersebut para ulama terdahulu telah mempraktekannya, satu dari sekian banyak ulama tersebut adalah seorang dai kader pesantren (tidak disebutkan namanya) yang berdakwah di bumi cendrawasih, sebagaimana disampaikan oleh cendikiawan muda NU Kiai Ahmad Baso yang ia tulis di status facebooknya pada hari Jum’at. (30/8/2019)

“ISLAM NUSANTARA DI PAPUA: Mari sejenak merenungi cerita ini, yg menggambarkan hakikat orang-orang Papua merangkul semangat Islam Nusantara, bukan fundamentalisme agama”Tulisnya memulai cerita

Menurut peneliti sejarah Islam Nusantara ini, sanad cerita yang ia bagikan berasal dari almarhum Prof Bambang Pranowo, penulis buku Pesantren Tegalrejo Magelang yang disampaikan dalam sebuah acara seminar PBNU yang digelar di Bandung pada tahun 2012 lalu.

“Ada seorang muballigh  kader pesantren berdakwah di pedalaman Papua. Ada pendekatan ke kepala suku satu komunitas. Kepala suku itu tertarik masuk Islam, tapi dia dan warganya masih suka makan babi — lha wong babi itu adalah makanan mereka sehari-hari”lanjutnya

“Apa boleh masuk Islam, asal kami warga sini tetap boleh makan babi?” tanya kepala suku

“Boleh..”jawab sang ustadz

“Boleh ustaz?”pertanyaannya diulang mungkin karena penasaran sebab ia tahu bahwa dalam ajaran Islam itu babi dilarang

“Silakan.. asal yg dipotong dan dimakan adalah babi betina”Jawab sang ustadz meyakinkan

“Wah bagus ustaz. berarti kami masih boleh makan babi, meski sudah muslim..”Ujar kepala suku dengan raut ceria

Beberapa lama kemudian semua babi betina habis dimakan, populasi babi pun menurun, setelah itu babi jantan juga dilahap lama-lama babi habis sama sekali di perkampungan suku itu

Kepala suku kembali mengadukan hal itu kepada sang ustadz.

“Nah, kalau babinya sudah habis, silakan para warga sini beternak kambing, semoga barakah” jawab sang ustadz

Diakhir catatannya, pria asal Makasar yang produktif menulis buku itu menyampaikan bahwa begitulah Islam Nusantara yg dipeluk rakyat Papua; percaya berkah dan karamah tanah Nusantara untuk NKRI, jangan sampai perusahaan asing seperti Freeport dan agen2 asing merusak karamah dan berkah itu, dengan memancing konflik agama ras etnik dst. (Aiz Luthfi)