Tingkatan Hati menurut KH Said Aqil Siradj

Share to :

Hati merupakan organ vital dalam tubuh manusia yang mempunyai peran penting dalam bertindak, bahkan menurut sebuah Riwayat dinyatakan bahwa hati adalah rajanya manusia. Hati lebih diartikan sebagai sesuatu yang bersifat batin yang bisa bekerja dan beribadah, bagi kalangan nahdliyin niat dalam hati menjadi salah satu kewajiban dalam beribadah, seperti niat sholat, niat puasa dan sebagainya.

Kaidah Bahasa Arab terdapat berbagai kalimat yang merujuk kepada makna hati, seperti qolbu, shudur, fuad dan sebagainya yang masing-masing mempunyai makna tersendiri, misalnya kata qolbu berasal dari kata qo la ba yang berarti bolak-balik karena hati kadang bekerja bolak balik; awalnya cinta jadi benci, awalnya yakin jadi ragu dan seterusnya.

Dalam menjelaskan tentang hati, Ketua Umum PBNU, KH Said Aqil Siradj membagi hati menjadi lima tingkatan yang saling mempengaruhi satu sama lain, yaitu Basyiroh, Dhomir, Fuad, Asror dan puncaknya adalah Latifah.

Basyirah

Basyirah merupakan lapisan hati paling luar, untuk lebih mudahnya basyirah dimaknai sebagai mata batin yang berfungsi untuk membedakan antara sesuatu yang baik dan buruk.

Dhomir

Tingkatan kedua adalah dhomir yaitu hati yang berfungsi untuk mengeluarkan satu perintah atau larangan yang muncul dari basyirah. Singkatnya dhomir adalah suara basyirah yang mendorong untuk mengerjakan suatu perbuatan baik dan atau meninggalkan perbuatan buruk.

Fuad

Fu’ad adalah sebuah pertimbangan hati yang menjatuhkan vonis bagi tindakan manusia. missal: basyirah mengatakan bahwa mengaji itu adalah perbuatan baik, lalu dhamir mendorong kita untuk mengaji, nah, fuad akan mengatakan bahwa kita adalah orang baik, atau ketika misalnya kita berbohong maka fuad akan memvonis kita tidak baik.

Sirr/Asror

Menurut Kang Said, dengan asror manusia memiliki ketepatan-ketepatan sebuah prediksi gaib. Misalnya ini dialami oleh sahabat Umar bin Khattab RA. ketika ia sedang berkhutbah terhadap pasukan muslim yang berada di lain lokasi. Hebatnya, pasukan yang berbeda lokasi tersebut bisa mendengar pengarahan dari Umar RA.

Contoh lain adalah Syaikh Wasil yang mengajarkan kitab Sirrul Asrar kepada Pangeran Jaya Baya yang diterjemahkan menjadi Serat Jaya Baya.

Latifah

Latifah mampu mengakses informasi di lauhul mahfudz. Untuk lebih mudahnya Latifah bisa dikatakan seperti perangkat smartphone yang terkoneksi dengan internet dan mampu mengakses berbagai informasi atau peristiwa di berbagai belahan dunia.