Terima Kasih Ramadhan

Share to :

Bulan Ramadhan adalah bulan istimewa, selain menjadi bulan penuh berkah, maghfirah dan seterusnya. Ramadhan juga bisa menjadi bulan ‘intermezo’ dan bulan charger batin agar jiwa umat Islam bisa kembali fresh dan tidak terkungkung oleh aktifitas kehidupan yang monoton.

Diantara karakter manusia adalah punya perasaan jenuh dan bosan jika menjalani aktifitas yang sama dalam jangka waktu yang lama. Dengan kata lain, ketika manusia menjalani rutinitas, pekerjaan atau kegiatan yang hanya itu-itu saja bisa membuatnya menjadi jenuh dan bosan.

Tidak heran jika pada akhir pekan, lalu lintas di daerah Bogor atau Bandung disesaki kendaraan asal ibu kota, tujuan perjalanannya tiada lain adalah untuk menghilangkan kejenuhan yang muncul dari rutinitas yang sama sejak hari senin sampai Jum’at.

Contoh kejenuhan tersebut lahir hanya dalam waktu 1 pekan, bagaimana jadinya jika rutinitas itu berjalan sampai 1 bulan, 1 semester atau bahkan 1 tahun. Maka dengan adanya bulan Ramadhan bisa menjadi sebuah momentum perjalanan ruhani yang bisa memangkas kejenuhan yang lahir dari segudang rutinitas selama 11 bulan.

Kedatangan bulan Ramadhan membuat kehidupan tidak lagi monoton, ada suasana baru yang tidak seperti biasanya. Misalnya ada ibadah shalat tarawih, bangun malam, sahur, aneka suguhan kuliner, ngabuburit bahkan acara-acara TV atau konten-konten media sosial pun dipenuhi dengan suasana relijius. Semua itu hanya bisa ditemukan di bulan Ramadhan.

Puncaknya adalah hari raya idul fitri, semua saling maaf-memaafkan dan bertemu dengan keluarga besar, suasana batin pun jadi bahagia dan fresh kembali. Setelah itu, jiwa-jiwa yang fitrah siap menyongsong rutinitas dengan ringan tanpa beban. Terima kasih bulan Ramadhan

Suasana tersebut tentu saja bisa dirasakan oleh umat Islam yang menjalani ibadah puasa, bagi yang tidak pernah berpuasa mungkin akan dianggap biasa saja karena suasana Ramadhan tidak jauh berbeda dengan bulan-bulan lainnya.

Ramadhan Bulan Pengaderan

Para ulama berpendapat bahwa inti dari puasa adalah pengendalian diri, lebih khususnya lagi mengendalikan hawa nafsu agar tidak liar. Sebagaimana diketahui, selama manusia hidup, selama itu pula hawa nafsu akan terus bergerak dan menggoda.

Menurut Al-Ghazali, paling tidak ada 2 hawa nafsu yang perlu dikendalikan, yaitu nafsu syahwat dan ghadab. Nafsu syahwat mendorong manusia untuk terus mencari kesenangan duniawi sedangkan nafsu ghadlab mendorong manusia untuk merasa paling unggul dari pihak lain, dan bisa marah ketika terjadi sesuatu yang tidak diinginkan. Dengan berpuasa, mestinya tensi hawa nafsu ini bisa stabil dan kondusif.

Kehadiran bulan Ramadhan menuntut umat Islam untuk selalu mengondisikan hawa nafsu agar puasanya bisa bernilai, sebab jika tidak dikondisikan puasa seseorang hanya akan mendapatkan haus dan lapar. Kata Al-Ghazali, ini puasanya orang awam, hanya menahan perut dari serangan haus dan lapar, sementara anggota tubuh dan hatinya dibiarkan berkeliaran.

Idealnya, dengan berpuasa selama sebulan penuh bisa membuat umat Islam semakin matang dalam menjaga dan mengendalikan hawa nafsu. Ramadhan ibarat sebagai lembaga pengaderan bagi umat Islam untuk menjadi semakin berkualitas.

Ibarat pengurus NU, Ramadhan seperti bulan MKNU/PKPNU, atau jika Banser, Ramadhan ini adalah bulan ‘Diklatsar’. Jika PNS yang baru lulus, bulan Ramadhan ibarat bulan Pra Jabatan. Diharapkan, setelah full melaksanakan puasa, umat Islam bisa semakin ‘profesional’ dalam mengendalian hawa nafsu dan menjadi orang yang bertaqwa (muttaqin).

Setelah menjalani kegiatan selama 11 bulan kemudian, bisa jadi hawa nafsu kembali bergejolak dan semakin liar. Maka pergerakannya kembali dikendalikan lagi dengan datangnya bulan Ramadhan berikutnya.

Baca juga: Tingkatan Hati menurut KH Said Aqil Siradj

Terima kasih bulan Ramadhan, semoga kita semua bisa bertemu lagi dengan bulan Ramadhan agar bisa menjadi semakin ‘profesional’ dan menjadi muttaqin.