Pesantren Sebagai Pusat Peradaban

Share to :

Oleh: Cecep Sugandar Permana*)

Bangsa-bangsa di dunia berlomba mengembangkan teknologi strategis guna menguasai perekonomian dunia dalam perkembangan teknologi informasi dan transportasi yang menjadikan kompetisi kian ketat dan tajam, bahkan diiringi dengan kerusakan nilai-nilai yang dianut suatu bangsa. Arus informasi tidak mendidik yang demikian deras dan tidak tersaring dapat meruntuhkan peradaban pada suatu bangsa. Suatu bangsa dinyatakan beradab apabila menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan dan menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi.

Pesantren Sebagai Pusat Peradaban

Pondok pesantren sebagai institusi pendidikan yang berbasis agama dapat mengambil peran penting sebagai penggali nilai-nilai peradaban, mempraktekkan dan mendiseminasikan nilai-nilai peradaban ini dalam skala yang besar. Pondok pesantren yang menghasilkan intelektual muslim unggul dapat berperan penting sebagai agen pembaharu. Potensi pondok pesantren untuk menghasilkan output pendidikan yang menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi serta berakhlak mulia merupakan titik tumpu untuk menghasilkan terobosan-terobosan pengembangan pendidikan guna menjadikan pondok pesantren sebagai pusat peradaban muslim Indonesia.

Contoh Pondok Pesantren yang menghasilkan terobosan-terobosan untuk menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan dan menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi yaitu Pondok Pesantren Al-Ikhlas Raudhatul Uluum Subang yang terletak di desa Tenjolaya Kecamatan Kasomalang Kabupaten Subang, dengan di bawah kepemimpinan KH. Abdul Hamid telah mempraktekkan dan mendiseminasikan nilai-nilai peradaban muslim sebagai agen pembaharu terutama dalam hal teknologi. Hal ini dibuktikan oleh salah satu alumni santri Pesantren Al-Ikhlas Raudhatul Uluum yang bernama Aji Abdullah telah membuat suatu terobosan teknologi berupa aplikasi yang bisa diakses di smartphone dan komputer untuk pengolaan administrasi Madrasah secara online. Menurutnya, “aplikasi ini untuk memudahkan laporan dan pengawasan ke madrasah di daerah, mengetahui jumlah ril guru dan di dalamnya juga bisa diketahui kondisi madrasah yang sudah rusak atau masih layak untuk dipergunakan”.

Pada perfektif pendidikan Nasional, pondok pesantren merupakan salah satu subsistem pendidikan yang memiliki karakter khusus, legalitas dan eksistensi yang telah diakui oleh Undang – Undang RI No. 20 tentang Sistem Pendidikan Nasional pasal 3 disebutkan bahwa :

Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermanfaat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Allah Swt. Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga Negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

Berdasarkan pernyataan di atas, kemandirian merupakan salah satu tujuan yang hendak dicapai dalam proses pendidikan. Pendidikan Nasional tidak hanya bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, dan menjadi warga Negara yang demokratis serta bertanggung jawab, akan tetapi bertujuan pula membentuk peserta didik yang mandiri.

Diantara lembaga pendidikan yang berkembang, pondok pesantren memiliki karakteristik yang kuat dalam rangka pembentukan peserta didik yang mandiri. Hal ini terbukti secara empiris dibeberapa pondok pesantren diantaranya pondok pesantren Al-Ikhlas Raudhatul Uluum Subang yang mengharuskan santri agar bisa hidup mandiri. Maka dari itu, pembentukan kemandirian akan terlihat jelas jika dibandingkan dengan pendidikan sekolah formal yang tidak menjamin pembentukan kemandirian peserta didik sesuai dengan semangat tujuan pendidikan nasional. Oleh karena itu masa depan satri akan lebih baik karena sudah dibekali ilmu untuk hidup di dunia dan akhirat.

Dalam era ini kemajuan teknologi dengan kondisi mengiring kita memasuki era baru terutama bidang manafuktur dan industri yaitu revolusi industri keempat atau disebut juga sebagai industri 4.0 (selanjutnya disingkat RI. 4.0). Transformasi digital manufaktur dan pemanfaatan teknologi menjadi identitas RI 4.0.

Penggunaan daya dan data dipengaruhi oleh perkembangan Internet dan teknologi digital sebagai tulang punggung gerakan manusia dan mesin serta konektivitasnya. Revolusi ini akhirnya mengubah perspektif seseorang dalam menjalani kehidupan modern dan canggih. Pertanyaan mendasar yang menarik untuk dicermati bagaimana lembaga pendidikan Islam khususnya pesantren merespon tuntutan perubahan di era RI 4.0. Pertanyaan tersebut terus dieksplorasi untuk menemukan kekuatan ide pada aspek pendidikan tentang apa dan bagaimana tantangan pesantren dalam dunia pendidikan di era RI 4.0 terutama hadirnya generasi baru dari masyarakat digital yang akan menjadi calon-calon santri pesantren dimasa mendatang.

Kondisi ini perlu menjadi perhatian pesantren dalam mengimbangi literatur keislaman yang tersebar melalui media sosial terutama pesan-pesan yang mengandung bias-bias ideologi konservatif yang intoleran, liberal dan radikal dengan memproduksi literatur keislaman, humanis dan toleran berbantukan teknologi. Upaya yang bisa dikembangkan di pesantren dalam upaya tersebut diantaranya membangun literasi digital di pesantren dan membuat channel kajian keislaman.

Secara sistematis, misi pesantren utamanya mengajarkan ilmu-ilmu agama Islam (tasawuf, fiqih, aqidah dan akhlak). Secara historis misi pesantren sebenarnya menggambarkan pendidikan sosial dan budaya yang digali dari nilai-nilai dasar kemanusiaan Indonesia. Sebagai contoh Sunan Kalijaga menciptakan ilmu pertanian dan wayang serta beberapa tembang Jawa yang di dalamnya bukan hanya berisi ajaran-ajaran spiritual namun juga mengembangkan seni gamelan Jawa yang pada masa sebelumnya hanya berfungsi sebagai tontonan lalu berubah menjadi tuntunan. Maka dari itu, pewaris para wali adalah kiai. Kini, yang menjadi ruh dan pusat kesadaran pesantren pun adalah kiai. Kiai mestinya mencontoh para wali di samping sebagai pendidik dan pengajar juga merupakan panutan dalam mengembangkan tatanan sosial dan budaya bagi masyarakatnya. Kealiman kiai bukan hanya sebatas kealiman spiritual namun juga memancarkan kebijaksanaan yang mampu memelihara sekaligus mengembangkan budaya yang masih dianggap relevan dengan zaman.

Pada era ini pesantren ditantang bukan hanya menyelesaikan persoalan-persoalan bangsa dan negara Indonesia saja namun juga dituntut mampu berhadapan bahkan menyumbangkan kontribusinya dalam membangun peradaban dunia yang global. Maka dari itu, pesantren tidak hanya dihormati sebagai tempat belajar semata, tetapi lebih dipandang sebagai lembaga yang dipenuhi dan diresapi nilai-nilai agama Islam segala hal yang dikerjakan di pesantren mestinya dilakukan atas landasan sehingga kesadaran dan pengimplementasian nilai Islam yang universal, terbuka dan progresif. Pesantren betul-betul dijadikan sebagai tempat praktik membelajarkan diri atas agama dan kehidupan luar yang sangat luas. Belajar di pesantren tidak semata-mata untuk mendapatkan ilmu tetapi juga mengamalkan ilmu.

Sebagai lembaga pendidikan yang paling tua Indonesia, kontribusi pesantren kepada masyarakat dan bangsa masih relevan dan diperlukan. Saat moral dan karakter sosial-kebudayaan seperti sekarang ini dipersoalkan, pesantren memberi kontribusi besar dalam mengembangkan pendidikan kemasyarakatan (sosial) dan kebudayaan yaitu dengan cara pembelajaran berlangsung intensif karena tinggal dalam satu pemondokan yang sama anatara kiai dan santri, kondisi ini memungkinkan kiai dan santri berinterkasi dalam keteladan dengan pembelajaran yang berbasis Islam secara universal termasuk dalam konteks sosial dan kebudayaan.

*) Santri Pondok Pesantren Al-Ikhlas Raudhatul Uluum Subang / Peserta Lomba menulis Hari Santri Nasional Tingkat Kabupaten Subang, tahun 2019.