Melewati Realita Pandemi Covid-19 di Pondok Pesantren

Share to :

Oleh: Gita Laelatul Qodriah*)

Setelah beredar kabar Covid-19 banyak merenggut nyawa manusia di seluruh dunia, keadaan menjadi berubah dan sangat meresahkan makhluk hidup terutama manusia. Manusia diresahkan oleh virus corona, karenanya manusia tidak dapat beraktivitas dengan semestinya. Bagaimana manusia dapatmemenuhi kebutuhan hidupnya, jika untuk keluar saja mereka dibatasi. Bagaimana mereka akan bekerja, belajar, dan sebagainya. Jika keadaan negara terus menerus seperti ini tidak ada perubahan akan berdampak pada segala bidang terutama dibidang ekonomi.

Pesantren Miftahul Huda Al-Jalal

Kini, pemerintah sudah menetapkan protokol Kesehatan yang cukup ketat yang harus kita patuhi karena protokol tersebut tertera jelas dalam Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1984 tentang Wabah Penyakit Menular (Lembaran Negara Republik lndonesia Tahun 1984 Nomor 20, Tambahan Lembaran Negara Republik lndonesia Nomor 3237). Dengan adanya Undang-Undang ini kita selaku warga negara yang baik sudah sepastinya kita patuh terhadap protokol Kesehatan tersebut. Dengan kita mematuhi protokol tersebut kita mampu mengurangi beban pemerintah dalam hal mencegah terjadinya Covid-19.

Begitu juga dengan pondok pesantren salah satunya pondok dimana saya mondok yaitu pondok pesantren Miftahul Huda Al-jalal sangat menekankan para santri untuk mematuhi protokol Kesehatan agar para santri yang ada dipondok tidak sampai terjangkit oleh virus corona atau Covid-19. Maka dari itu para pengurus meminta para santri untuk melakukan pola hidup sehat salah satu nya dengan cara membiasakan mencuci tangan sebelum dan sesudah melakukan aktivitas dan membiasakan memakai masker dan membawa Hand Sanitizer Ketika akan keluar komplek pondok pesantren.

Selama 2 bulan adanya virus corona atau Covid-19  di Indonesia pemerintah Indonesia masih mewajibkan para siswa yang ada di pesantren maupun yang tidak di pesantren untuk mengikuti pembelajaran tatap muka seperti biasanya. Namun dengan tetap berpacu pada protokol Kesehatan agar tidak ada para santri ataupun peserta didik yang terkena virus corona atau Covid-19.

Namun setelah 2 bulan berlalu virus corona atau Covid-19 tidak ada perubahan sama sekali bahkan warga negara republik Indonesia banyak yang terkena virus corona atau Covid-19 dan keadaan ini kian lama kian melonjak sehingga pemerintah republik Indonesia membuat peraturan yaitu dengan cara menetapkan seluruh daerah untuk melakukan lockdown. Hal ini dilakukan tidak lain dan tidak bukan untuk mencegah melonjaknya pasien akibat virus corona atau Covid-19.

Dengan keadaan negara Indonesia yang belum membaik Covid-19 Akan banyak sekali kendala yang di alami sekarang ini, dari sini kita mengenal yang namanya ‘’Belajar Online’’ sistem ini diperkuat lagi dengan aplikasi “Classroom, e-learning, moodle” semuanya bersangkutan dengan teknologi, dimulai belajar, penilaian harian, penilaian tengah semester, dan absensi kehadiran juga secara online menggunakan teknologi.

Pembelajaran online ini berpengaruh bagi proses belajar para peserta didik?. Dari fenomena tersebut, ketertarikan peserta didik atau para santri untuk belajar online sangatlah sedikit peminatnya, sehingga pengetahuan yang dimiliki para peserta didik atau para santri semakin menurun. Hal ini menjadi tugas pemerintah untuk mencari jalan keluar bagaimana caranya agar para peserta didik atau para santri tidak sampai mengalami penurunan dalam bidang pengetahuan.

Tidak tertinggal dengan pondok pesantren yang terkenal dengan peraturannya setelah mendengar keadaan negara republik Indonesia ini, para pondok pesantren tersebut melakukan lockdown dengan cara mempulangkan seluruh santri nya untuk melakukan kegiatan belajar dan mengaji dirumah masing-masing. Salah satunya di pondok pesantren tempat saya mondok melakukan kegiatan mengaji melalui Zoom Meeting dan via WhatsApp. Hal ini dilakukan agar para santri tetap berada dalam lingkup atau pengawasan peraturan pondok pesantren.

Menurut penuturan beberapa santri yang pernah di wawancarai pada Rabu, 15 Juli 2020 menyatakan “bahwa terdapat perbedaan dalam antara belajar tatap muka dengan belajar daring seperti sekarang ini” beberapa perbedaan tersebut salah satu nya yaitu sistem belajar menggunakan Zoom Meeting jika belajar dilakukan dengan cara daring, namun sistem ini tidak begitu efektif sehingga mengakibatkan para peserta didik atau para santri tidak begitu memahami pembelajaran tersebut.

Namun, jika pembelajaran dilakukan secara tatap muka pun pihak sekolah harus mewajibkan para peserta didik atau para santri untuk mematuhi protokol Kesehatan seperti menyediakan fasilitas cuci tangan, mewajibkqn penggunaan masker, dan memastikan seluruh orang yang memasuki kawasan sekolah untuk menjaga jarak.

Selama belajar daring ini banyak para peserta didik atau para santri yang mengeluh karena tidak mengerti dengan pembelajaran yang diberikan oleh Guru mata pelajaran, ada juga para peserta didik atau para santri yang mengeluh karena tidak mempunyai kuota untuk mengerjakan tugas, dan ada juga para peserta didik atau para santri yang santai memainkan game Mobile Legend, PUBG, Free Fire, dan lain-lain tanpa memikirkan tugas yang di berikan oleh Guru masing-masing sekolah.

Namun, semua itu dilakukan dengan segala pertimbangan agar melindungi banyak jiwa dari terjangkitnya virus corona atau Covid-19. Virus corona atau Covid-19 menggemparkan seluruh dunia makluk kecil yang mempunyai kekuatan yang besar untuk menyerang tubuh makhluk hidup dan dapat menurunkan daya tarik dalam segala bidang terutama dalam bidang pengetahuan atau perekonomian.

Semoga Allah menstabilkan keadaan di negara republik Indonesia ini dan cepat mengangkat  wabah penyakit virus corona atau Covid-19. Karena hakikatnya penyakit itu datangnya dari Allah Swt maka akan Kembali lagi kepada Allah Swt.

Salam sehat, salam sejahtera, semoga Allah melindungi kita semua.

*) Santri Pesantren Miftahul Huda Al-Jalal, Juara III lomba menulis Hari Santri 2020 tingkat Kabupaten Subang