Konten Youtube Kang Ujang Busthomi Settingan? (Bagian 1)

Share to :

Oleh: Alfikar*)

Kehadiran Channel Youtube Kang Ujang Busthomi Cirebon mendapat tempat tersendiri bagi para pengguna media sosial berbasis video Youtube. Rupanya masyarakat Indonesia sejak dulu sampai sekarang masih suka dengan dunia gaib, buktinya tidak butuh waktu lama bagi Kang Ujang untuk mendapatkan subscriber karena hanya dalam hitungan bulan saja channelnya sudah lebih dari 3 juta subreker.

Di sisi lain, dari jutaan penonton yang hadir dalam tayangan video di channel Kang Ujang ternyata masih ada yang memandang sebelah mata, buktinya walaupun konten Kang Ujang diunggah secara live alias siarang langsung tanpa ada editan video sama sekali tapi ada sebagian pihak yang menganggap bahwa konten tersebut hanya settingan saja, artinya konten itu dianggap fiktif tidak jauh beda dengan konten-konten yang ada dalam film horor layar lebar.

Kang Ujang bukan public figure kaleng-kaleng, kemunculannya di stasiun televisi sejak beberapa tahun yang lalu membuatnya berkarakter dalam menghadapi komentar negatif dari pihak luar, buktinya Pengasuh Padepokan Anti Galau Cirebon ini sama sekali tidak pernah baper alias bawa perasaan ketika ada yang menilai bahwa kontennya cuma settingan.

Justru yang baper itu malah subreker, saskreber, per-peran wis apa baelah, diantara subscriber tersebut adalah saya sendiri. Ingin rasanya saya mengajukan beberapa pernyataan dan pertanyaan kepada mereka yang nyinyir dengan Kang Ujang, diantara pertanyaan tersebut adalah, apakah mereka tidak percaya dengan kekuatan shalawat? Apakah mereka tidak percaya dengan kekuatan ilmu hikmah?

Sekedar informasi, dalam catatan sejarah disebutkan bahwa Islam masuk ke nusantara ada yang mengatakan pada abad ke-13, ke-11, ke-9, bahkan ada yang mengatakan sejak abad ke-7, tapi kenapa baru berkembang pada abad ke-15 yaitu pada zamannya Wali Songo?.

Menurut Kiai Agus Sunyoto, orang nusantara terutama orang Jawa itu punya peradaban yang tinggi, termasuk di bidang ilmu kanuragan. Dalam buku Atlas Wali Songo diceritakan ada 20.000 keluarga muslim yang datang ke nusantara tapi semuanya meninggal dunia, kecuali hanya tersisa sekitar 200-an saja karena tidak sanggup menghadapi orang pribumi, bisa jadi mereka yang berhadapan atau bertarung dengan ribuan muslim tersebut mempunyai sanad atau silsilah keilmuwan yang sambung menyambung dengan para dukun santet yang didatangi Kang Ujang. Kira-kira itulah sebabnya di awal-awal dakwah Islam sulit diterima masyarakat nusantara.

Baru ketika Wali Songo berdakwah di nusantara Islam bisa diterima oleh masyarakat pribumi, beliau-beliau berdakwah menggunakan berbagai strategi yang luar biasa, mulai dari kebudayaan, pendidikan, perdagangan dan sebagainya hingga akhirnya hanya dalam waktu kurang lebih 50 tahunan Islam bisa diterima masyarakat nusantara.

Hal yang menarik adalah, mengapa namanya Wali Songo alias Wali Sembilan? Bukan Wali Lima, Wali Pitu, Wali Sebelas dan seterusnya?. Tentu saja hal ini berdasarkan pertimbangan ilmu hikmah, sebab dalam hitungan abajadun nama Jawa itu berjumlah 9, jumlah ini merujuk pada hitungan huruf Jawa yang terdiri dari huruf jim ( ج ) dan wawu (و ).

Menurut hitungan Abajadun, huruf jim ( ج ) mempunyai nilai 3 dan huruf wawu (و ) mempunyai nilai 6, ketika dua huruf tersebut disatukan jumlahnya menjadi 9, maka di tanah Jawa angka sembilan dianggap keramat, lihat saja nama-nama berikut yang jumlah hurufnya ada 9 seperti; Nusantara, Indonesia, Pancasila, Pajajaran, Majapahit, Siliwangi, Gajah Mada, dan sebagainya.

Sebagaimana ribuan muslim yang di awal tadi datang ke nusantara, Wali Songo pun mendapatkan tantangan yang sama, kurang lebih dengan bahasa; jika kamu bisa mengalahkan saya, saya ikut agama kamu. Maka terjadilah pertarungan, bahkan diceritakan Sunan Bonang sempat terluka parah akibat pertarungan ini.

Apa hubungannya Kang Ujang dengan Wali Songo?tentu saja ada benang merahnya, yaitu sama-sama bertarung dengan masyarakat yang punya ilmu kanuragan cukup tinggi dan bersekongkol dengan setan belek, setan engklek, preet…

Bersambung…

*) Salah satu subscriber Kang Ujang Busthomi Cirebon