Mustasyar PBNU KH Husein Muhammad mengenang perjalanan hidupnya saat berangkat mondok ke Lirboyo, hal itu ia sampaikan dalam akun facebook-nya dengan tulisan berseri sebagaimana berikut:

BERANGKAT MONDOK (2)

Siang itu, bulan Syawal, 1970, usai shalat Zhuhur, setelah makan siang, aku diminta untuk bersiap-siap,  memakai celana dan baju yang bagus. Ibu telah menyediakannya sejak kemarin. Juga sandal jepit kulit bikinan desa Plered. Sementara aku di kamar, beberapa orang sibuk mengikat kardus-kardus.

Ada kardus berisi makanan; nasi timbel berikut lauk-pauknya dan kue-kue, antara lain “koci”, semacam “dodol cina” yang dibungkus dengan daun dan dikemas dalam bentuk seperti gunung atau piramida. Di dalamnya diisi gula merah atau kacang hijau. Ini makanan khas di desaku yang selalu ada pada setiap hajatan.

Ada kardus berisi buku-buku dan kitab-kitab yang akan dipakai di pesantren kelak. Sedangkan untuk pakaian-pakaianku, mereka memasukkannya ke tas “tengteng” yang terbuat dari kulit imitasi. Saat itu belum ada tas “rangsel” seperti yang umum digunakan hari ini.

Ayahku masuk dan memberikan uang secukupnya untuk keperluan di pesantren selama satu bulan, termasuk untuk uang pendaftaran masuk pesantren dan madrasah. Para tetangga juga berdatangan ke rumah. Beberapa teman sekolahku di SMP juga datang.

Barang-barang yang akan aku bawa “mondok” (mesantren) kemudian dibawa ke latar, halaman rumah. Di sana sudah berkumpul keluarga dari ibu dan dari ayah, para tetangga dan para santri, putra dan putri dalam posisi terpisah.

Aku kemudian keluar bersama ayah dan ibu, layaknya calon pengantin yang akan dipertemukan dengan pasangannya. Setelah semua berkumpul, ayah meminta salah seorang pamanku untuk menyampaikan kata sambutan pamitan atau pelepasan, mewakilinya.

Aku berdiri di barisan paling depan, bagai calon pengantin yang akan berangkat menuju rumah calon mertua. Atau bagai calon jemaah haji yang akan berangkat ke Makkah.

Dalam sambutan itu paman tentu saja menyampaikan maksud berkumpul di sini : melepas aku, lalu memohonkan maaf atas namaku, terima kasih serta mohon do’a agar aku selamat di perjalanan sampai di tujuan dan “hasil maqsud” (tercapai tujuannya).

Usai sambutan singkat, seorang santri yang biasa azan di masjid pesantren, maju ke depan, dengan menghadap ke arah kiblat. Ayahku memintanya azan. Maka melantunlah suaranya yang merdu dan dalam nada lagu sendu, menderu-deru, seperti azan di Masjid al-Haram Makkah. Semua yang hadir menunduk, seperti tak bergairah. Suasana begitu syahdu.

Baca juga: Kiai Husein Muhammad Kisahkan Pengalaman Berangkat Mondok ke Lirboyo (3)

Beberapa orang tampak mengusap-usap matanya dengan sapu tangan atau ujung bajunya. Nuansa latar, halaman, rumah jadi mengharu-biru dan trenyuh. Aku ikut terbawa emosi keharuan sambil menahan air mata agar tidak menetes. Begitu azan selesai, pamanku yang lain menyampaikan do’a.

Bersambung