Hukum Memakai Cadar

Share to :

Deskripsi masalah

Sudah menjadi tradisi disebagian kalangan nahdliyyin jika bulan syawal datang suka ada acara temu keluarga, supaya anak cucu mereka mengenal satu sama lain ke sesama saudaranya, terus di antara keluarga yg hadir ada yg memakai cadar (khusus bagi kaum hawa) sehingga para hadirin tidak bisa mengenalinya secara jelas kecuali tau namanya saja.

Pertayaan

  1. Bagaimana sudut pandang fiqh tentang memakai cadar dalam kondisi di atas ?

Jawaban :

Ulama berbeda pendapat (Khilaf).

Menurut pendapat yang mu’tamad (terkuat dan terpercaya) aurat wanita dalam                penglihatan lelaki lain keseluruhan tubuhnya hingga wajah dan telapak tangannya           sehingga haram bagi   laki-laki lain melihat sesuatu dari tubuhnya dan wajib bagi wanita menutup tubuhnya dari lelaki lain, sedang menurut pendapat lainnya wajah dan                telapaknya boleh terbuka dan juga  bagi lelaki lain melihatnya.

  1. Bersama suami : Tiada batasan aurat baginya saat bersama suami, semua bebas terbuka  kecuali bagian FARJI (alat kelamin wanita) yang terjadi perbedaan pendapat di antara Ulama
  2. Bersama lelaki lain : – Menurut pendapat yang paling shahih seluruh tubuhnya hingga wajah dan kedua telapak tangannya, menurut pendapat yang lain wajah dan telapaknya    boleh terbuka.
  • Auratnya didekat lelaki lain keseluruhan tubuhnya, Imam ar-Rofi’i berkata “Boleh melihat wajah dan telapak tangan wanita lain dengan tanpa disertai syahwat.
  1. Bersama lelaki mahramnya dan sesama wanita : Auratnya diantara pusar dan lutut
  2. Di dalam sholat : Seluruh tubuh menjadi auratnya kecuali wajah dan kedua telapak
  3. Diluar Shalat : Keseluruhan tubuhnya (dengan dinisbatkan penglihatan lelaki lain           padanya) hingga wajah dan kedua telapak tangannya meskipun saat aman dari fitnah dan meskipun ia budak sahaya.
  4. Saat sendiri : Menurut Imam Romli dalam Kitab Nihaayah al-Muhtaaj aurat wanita saat  sendiri adalah ‘aurat kecil’ yaitu aurat yang wajib ditutup oleh seorang lelaki (antara pusar dan lutut).

 (I’anatut Tholibin 3/229)

و منها : المرأة في العورة لها أحوال : حالة مع الزوج : و لا عورة بينهما و في الفرج وجه و حالة مع الأجانب : و عورتها كل البدن حتى الوجه و الكفين في الأصح و حالة مع المحارم و النساء : و عورتها ما بين السرة و الركبة و حالة في الصلاة

(Hasyiyah Bujairimi 3/272)

و عورتها كل البدن إلا الوجه و الكفين و صرح الإمام في النهاية : بأن الذي يجب ستره منها في الخلوة هي العورة الصغرى و هو المستور من عورة الرجل

[ Asybaah wa An-Nadhooir I/410 ]

أمَّا عَوْرَتُهَا خَارِجَ الصَّلَاةِ بِالنِّسْبَةِ لِنَظَرِ الْأَجْنَبِيِّ إلَيْهَا فَهِيَ جَمِيعُ بَدَنِهَا حَتَّى الْوَجْهِ وَالْكَفَّيْنِ ، وَلَوْ عِنْدَ أَمْنِ الْفِتْنَةِ ، وَلَوْ رَقِيقَةً فَيَحْرُمُ عَلَى الْأَجْنَبِيِّ أَنْ يَنْظُرَ إلَى شَيْءٍ مِنْ بَدَنِهَا وَلَوْ قُلَامَةَ ظُفْرٍ مُنْفَصِلًا مِنْهَا ، وَالْعِبْرَةُ بِوَقْتِ النَّظَرِ

 [ Tuhfah al-Habiib II/172 ]

وبحضرة الأجانب جميع بدنها . وقال الرافعي : يجوز النظر من الأجنبية لوجهها وكفيها من غير شهوة وكذا مذهب المالكية