Budaya Sorogan dan Balaghan di Pondok Pesantren Pagelaran 1 dalam Meningkatkan Kualitas Santri

Share to :

oleh : Hany Hanifa Munjiya*)

Pondok pesantren merupakan sebuah lembaga pendidikan tradisional yang mempunyai visi untuk meningkatkan sumber daya manusia dengan menggunakan kajian pendidikan berbasis keagamaan Islam. Pendidikan keagamaan adalah sebuah proses pembelajaran yang memiliki ciri khas Islam, yang mana di dalamnya memiliki keterkaitan antara lembaga, tenaga didik, dan anak didik.  Sebuah lembaga pendidikan yang mempunyai komitmen tafaqquh fiddiin selalu memberikan peran yang besar dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Sudah diakui dari dulu bahwa Pondok Pesantren merupakan salah satu lembaga pendidikan Islam di Indonesia yang memiliki peran yang sangat penting dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia di Indonesia. Sebagai lembaga pendidikan tradisional, setiap pondok pesantren memiliki metode pembelajaran yang beragam. Metode pembelajaran tersebut sudah termasuk dalam budaya yang ada di dalam pesantren tersebut.

Setiap lembaga pendidikan selalu memiliki sistem pembelajaran yang berbeda-beda agar menghasilkan lulusan-lulusan yang terbaik. Di dalam Pondok Pesantren salafi, ada istilah mengaji balaghan dan sorogan, yang mana merupakan salah satu metode pembelajaran yang dianggap efektif dalam menjalankan pembelajaran di Pesantren agar lebih mudah dalam memahami isi dari kitab kuning dan juga untuk melatih skill cara baca kitab kuning menurut ilmu nahwu dan shorof dengan baik dan benar. Seperti pepatah mengatakan bahwa ‘’practice makes you perfect’’ latihan membuat dirimu bisa.

Metode balaghan yaitu metode pembelajaran yang di dalam pelaksanaannya para ustadz mentransfer ilmu kepada santri-santrinya dengan cara ketika ustadz sedang membacakan dan menjelaskan kitab kuning yang sedang dipelajari, para santri mencatat artinya (melogat) di dalam kitab kuning kata demi kata.

Metode sorogan yaitu metode pembelajaran yang di dalam pelaksanaannya para ustadz mentransfer ilmu kepada santri-santrinya dengan cara ketika ustadz selesai membaca logatan (arti) kitab kuning, kemudian para santri mengulang bacaan yang telah dibacakan oleh ustadz.

Salah satu pesantren yang menggunakan metode balaghan dan sorogan adalah Pondok Pesantren Pagelaran 1. Pondok Pesantren Pagelaran 1 merupakan sebuah lembaga pendidikan Islam salafi yang didirikan oleh K.H. Muhyiddin di desa Cimeuhmal kecamatan Tanjungsiang kabupaten Subang pada tahun 1920. K.H. Muhyiddin merupakan seorang Ulama besar yang memiliki jasa dalam Kemerdekaan Indonesia. Karena dipimpin oleh seorang alim ulama yang termasyhur pada zamannya, Pondok Pesantren Pagelaran 1 ini sempat ramai dipenuhi santri-santri yang berdatangan. Namun sempat ditutup karena kekacauan yang timbul pasca revolusi kemerdekaan di Indonesia, yang akhirnya beberapa tahun kemudian Pondok Pesantren Pagelaran 1 dibuka kembali oleh putrinya yaitu Hj. Endeh Hayati.

Sistem pembelajaran terhadap kitab kuning di Pondok Pesantren Pagelaran 1 menggunakan metode balaghan dan sorogan yang dapat mempermudah santri dalam meningkatkan kemampuannya dalam belajar ilmu fiqh, ilmu nahwu, ilmu shorof, dan juga dalam berdakwah. Metode balaghan merupakan metode yang baik dalam peningkatan skill melogat dan juga penambahan kosa kata dalam bahasa arab. Tidak hanya itu, metode balaghan ini juga dapat memberikan ilmu pengetahuan yang mendalam dari kitab-kitab karangan ulama-ulama terdahulu.

Sudah menjadi budaya bagi Pondok Pesantren Pagelaran 1 dalam mempelajari kitab-kitab kuning. Di era digitalisasi yang serba memudahkan manusia dalam mencari informasi ini, pembelajaran terhadap kitab kuning di pesantren semakin ditinggalkan. Hal itu dikarenakan sudah canggihnya teknologi yang ada di zaman modern ini, yang mempengaruhi semangat santri dalam mengaji sehingga mengakibatkan menurunnya kualitas santri dalam menguasai kitab kuning. Maka dari itu, sistem pengajian yang ada di sebuah Pondok Pesantren khususnya Pondok Pesantren Pagelaran 1 lebih menitik beratkan kepada pembelajaran terhadap kitab kuning dengan menggunakan metode balaghan dan sorogan.

Metode sorogan dalam pengajian kitab kuning sejauh ini masih menjadi alternative pembelajaran yang sangat baik dalam meningkatkan kemampuan membaca kitab kuning, kemampuan menjelaskan, menghafal kosa kata bahasa arab, dan mempelajari nahwu dan shorofnya. Selama pembelajarannya, setiap santri mempunyai giliran untuk membaca kitab kuning dengan cara baca yang benar menurut ilmu nahwu dan shorofnya. Sehingga, santri Pagelaran 1 sudah terlatih dalam membaca kitab kuning dan juga akan lebih memudahkan mereka dalam mempelajarinya.

Jika mereka sudah dalam tahap mengerti dalam memperlajari kitab kuning, mereka akan lebih giat lagi dalam mempelajarinya, sehingga mereka akan haus akan ilmu pengetahuan dan pada akhirnya mereka akan menjadi seorang santri dengan kualitas yang tinggi dan beradab. Orang seperti itulah yang dibutuhkan pada zaman kini, yang bisa bertanggung jawab terhadap ilmunya dan dapat membuktikan bahwa dia juga mumpuni dalam hal agamanya sendiri. Tidak hanya omongan belaka, namun ia juga bisa membuktikan bahwa ia adalah seseorang dengan kemampuan mengaji yang baik dan benar. Karena, di zaman ini tidak sedikit orang-orang yang disebut ustadz, tetapi mereka seringkali salah menafsirkan Al-Qur’an dan Al-Hadits karena kurangnya pemahaman mereka dalam mempelajari ilmu nahwu dan ilmu shorof.

Maka dari itu, dalam menanamkan pembelajaran cepat terhadap ilmu nahwu dan shorof kepada para santri, Pondok Pesantren Pagelaran 1 selalu menerapkan budaya mengaji sorogan dan balaghan untuk meningkatkan kemampuan santri dalam mengaji. Itulah pentingnya mengaji dengan menggunakan metode sorogan dan balaghan. Semoga artikel sederhana yang penulis tulis ini, dapat memotivasi para pembaca untuk tetap menerapkan metode tersebut di pesantrennya masing-masing.

*) Peserta Lomba Menulis dalam rangka Peringatan Hari Santri Nasional Tingkat Kabupaten Subang Tahun 2019