Berjasa Dalam Pendidikan Islam, Honor Guru Ngaji Nyaris Dilupakan

Share to :

Cirebon, NU Subang Online
Guru Ngaji yang ada di pesantren, masjid, mushola dan majelis ta`lim mempunyai jasa besar dalam dunia pendidikan Islam, mereka rela mengerahkan semua tenaga, pikiran dan waktunya untuk mengajar kepada para santrinya.

ilustrasi

Para ustadz dan kiai tidak bisa bekerja seperti halnya masyarakat umum. Semuanya terjadi karena waktu mereka sudah tersita habis untuk mengajar, namun sayangnya, kesejahteraan para guru ngaji ini cenderung dilupakan.

“Seharusnya guru ngaji digaji, kyai nggak pantas pasang tarif seperti artis dangdut atau organ tunggal, tapi yang tidak membekali kyai sungguh tidak manusiawi,” tulis KH Tb Ahmad Rivqi Chowwash, Pengasuh Pesantren Darussalam, Buntet Pesantren Cirebon dalam akun Facebooknya, Selasa (28/6/2021).

Kiai Ahmad Rivqi melanjutkan, dalam pandangan fiqih, tidak menjadi masalah jika seorang kiai ceramah atau mengisi pengajian memasang tarif.

“Meskipun bila seorang kyai ceramah atau pengajian, sah ..sah saja bila kyai pasang tarif menurut para Fuqoha,” jelasnya.

Ditambahkannya, para ustadz dan kiai rela meluangkan waktunya untuk mengajar ngaji, saking sibuknya, mereka tidak sempat dan tidak punya banyak waktu untuk ikhtiar mengais rejeki.

“Bahkan banyak diantara mereka yang tidak sempat atau tidak punya banyak waktu untuk mencari uang, ngasab dan bisnis, tersita oleh pengajian dan undangan acara keagamaan,” ujarnya.

Lebih lanjut ia menjelaskan bahwa disinilah bedanya upah dengan bisyaroh atau amplop, kalau upah tentu ada UMR-nya, sedangkan amplop, bisa kurang dan bisa berlebihan, tergantung kucuran dana akhirat.

Hal ini bisa menjadi bahan renungan semua pihak, mulai dari pemerintah yang punya kebijakan dan anggaran. Selain itu, tentunya masyarakat umum yang mengharapkan kehidupan anak-anaknya kelak bisa mengaji dan membawa kemaslahatan di dunia dan akhirat.