Banser Lebih Fokus Jaga Ideologi dari pada Teritorial

Banser Jaga NKRI
Share to :

Subang, NUSubang.or.id

Banser Jaga NKRI

Komitmen Banser dalam menjaga NKRI sudah tidak diragukan lagi, bahkan jauh sebelum Indonesia merdeka Banser sudah punya kontribusi yang cukup besar untuk NKRI, semua itu dilakukan Banser atas petunjuk para kiai sekaligus melaksanaan jargon hubbul wathan minal iman (cinta tanah air sebagian dari iman).

Demikian disampaikan Ketua Jam’iyyah Ahlith Thariqah Al-Mu’tabarah An- Nahdliyyah (JATMAN) Kabupaten Subang, KH Thala’al Badar Karim saat mengisi kegiatan pengajian rotinan Pengurus Ranting NU Caracas, Kalijati, Subang, Jawa Barat. Ahad malam (29/9)

“NKRI Harga Mati itu bukan hanya ucapan atau jargon semata, tapi benar-benar dilaksanakan dan diaktualisasikan oleh Banser,” Ujar kiai yang biasa disapa Kang Toto itu

Kiai Toto menambahkan, agar ibadah bisa dilaksanakan dengan tenang dan nyaman, maka NKRI ini harus dijaga secara lahir dan batin dari berbagai rongrongan dan gangguan. Selanjutnya, kita harus bersyukur sebab hari ini di NKRI masih bisa melaksanakan ibadah dan aktifitas lainnya dengan tenang, berbeda dengan saudara-saudara kita di negara yang sedang dilanda konflik.

Saat ini, kata dia, konteks Banser jaga NKRI lebih fokus kepada menjaga ideologi yang mengancam keutuhan NKRI, adapun menjaga NKRI dalam konteks wilayah dan teritorial negara itu sudah masuk ranah dan tugasnya TNI, namun demikian Banser pun tetap siap dan siaga menjaga wilayah teritorial NKRI jika memang dibutuhkan, itu pun dengan catatan dapat doa dan restu dari para kiai.

Pengasuh Pesantren Al-Karimiyyah itu mengatakan, sangat wajar apabila Banser sangat lantang pada kelompok yang membawa ajaran anti NKRI, misalnya pada tahun 1960-an Banser berhadapan dengan PKI yang ingin mengubah ideologi negara menjadi komunis, sekarang Banser dihadapkan dengan kelompok yang ingin mengubah NKRI jadi khilafah.

“Jadi Banser juga paham mana musuh ideologi mana musuh negara,”Tambahnya

Menjaga ideologi, lanjutnya, bisa dibilang sama beratnya dengan menjaga wilayah teritorial negara karena gerakan ideologi bisa sembunyi dibalik sesuatu yang sakral, misalnya agama atau kepercayaan, resikonya akan mendapat caci maki dan hinaan karena dianggap menghina kesakralan, berbeda dengan gerakan separatis yang nyata terlihat dengan jelas secara kasat mata.

Dalam kegiatan pengajian ini, Kang Toto mengkaji Kitab Al-Minahus Saniyyah, diantara ulasan yang disampaikannya ialah ada sebagian ahli tasawuf bahkan wali yang tidak suka dengan pujian manusia, bahkan menganggap bahwa ibadahnya tidak sah apabila terlihat oleh manusia, sebaliknya ia malah lebih senang dipandang hina oleh manusia.