Asal-usul Kata Tasawuf dalam Disertasi Prof DR KH Said Aqil Siraj

Share to :

Tasawuf  adalah  salah satu cabang ilmu Islam yang menekankan dimensi atau aspek spiritual. Kaitannya dengan manusia, tasawuf lebih menekankan aspek rohaninya ketimbang aspek jasmaninya. Dalam kaitannya dengan kehidupan, ia lebih menekankan kehidupan akhirat ketimbang kehidupan dunia yang fana.

Orang yang ahli dalam tasawuf disebut dengan sufi. Seorang sufi menekankan aspek rohaninya dari pada aspek jasmaninya, sufi selalu berusaha untuk selalu dekat dengan Tuhan-nya. Untuk mencapai hal tersebut, seorang sufi harus menaiki tangga sesuai tingkatannya seperti taubat, zuhud, sabar, kefakiran kerendahan hati, takwa, tawakkal, kerelaan, cinta, ma’rifat.

Mulanya tasawuf bersifat individual, yaitu pengalaman pribadi orang-orang yang rutin mendekatkan diri kepada Allah Swt. melalui eksperimen dan aktualisasi diri, namun pada perkembangan selanjutnya beralih menjadi sebuah aliran atau kelompok yang kemudian disebut dengan tarekat.

Pengertian Tasawuf Secara Bahasa

Menurut KH. Said Aqil Siraj, sebagaimana tercatat dalam Desertasinya yang berjudul Shilatullah bil Kaun fit Tasawwuf al-Falsafi (Relasi Tuhan dengan Ciptaan Menurut Tasawuf Falsafi), secara bahasa, tasawuf paling tidak dinisbatkan kepada lima akar kata, pertama adalah kata ash-shafa yang berarti bersih, secara substansi memang benar, karena orang sufi selalu  melakukan pembersihan-pembersihan jiwa dari sesuatu yang mengotori hatinya, akan tetapi dari sisi lughawi kata itu tidak sesuai karena mestinya orang yang bersih namanya shofai, bukan sufi.

Kedua, tasawuf merupakan kelanjutan dari ahlu ash-shuffah, yaitu para sahabat muhajirin yang hijrah ke Madinah, di Madinah mereka tidak mempunyai kerabat dan sahabat akhirnya mereka memilih bertempat tinggal di serambi masjid Nabawi, disana mereka memfokuskan diri untuk beribadah kepada Allah, diantara para sahabat tersebut adalah Abu Dzar Al-Ghifari, seperti halnya ash-shafa, secara substansi memang benar, namun dari sisi bahasa kata ahlu ash-shuffah tidak cocok, karena jika kata sufi dinisbatkan kepada kata ahlu ash-shuffah mestinya adalah shuffi, dengan tasydid pada huruf shad, bukan sufi.

Ketiga, menurut Kiai Said kata tasawuf diambil dari nama seorang penjaga Ka`bah pada jaman Jahiliyah yang bernama Shuufah, nama asli Shuufah ini adalah Al-Ghauts Bin Mur, diceritakan pada musim panas yang luar biasa, ibunya Al-Ghauts Bin Mur ini melewati Ka`bah dan mendapati anaknya pingsan karena tidak kuat menahan panas. Ibunya lalu berkata: shara ibni shuufah (anakku jadi seperti kain lap).

Dari sisi lughawi, ada kesesuaian jika kata sufi dinisbatkan kepada kata shufah, namun dari sisi maknawi tentu saja akan terjadi persoalan, karena umat Islam tentu tidak akan menerima jika orang atau tokoh sufi seperti misalnya Syekh Abdul Qadir Jailani, Syekh Abu Hasan Asyadzili, Syekh Abdul Qadir Jailani, Imam Ghazali dan para tokoh sufi lainnya dinisbatkan kepada tokoh atau orang yang hidup pada jaman jahiliyah.

Penisbatan kata sufi yang keempat, sufi berasal dari kata sufia (menggunakan huruf sin) berasal dari bahasa Yunani yang artinya hikmah. Kata sufia ini secara maknawi memang sesuai, karena tasawuf memiliki  hikmah, namun dari sisi lughawi kata sufia tidak cocok, karena kata sufia menggunakan huruf ‘S’ atau sin, bukan shad, selain itu, kata sufia ini ahistoris, karena penerjemahan buku-buku Yunani kuno dilakukan pada masa khalifah Al-Mamun salah seorang khalifah dari bani Abasiyah, sementara tasawuf sudah ada sebelum kekhalifahan Abasiyah.

Kiai Said Aqil Siraj sendiri lebih cenderung pada asal kata yang kelima, yaitu shuf yang berarti bulu domba, sebab pada zaman dahulu orang-orang yang ahli beribadah, orang yang zuhud, mengasingkan diri di gua atau padang pasir dan orang yang banyak riyadlah, pakaian mereka menggunakan bulu domba, sebagaimana sahabat atau muridnya Nabi Isa yang memakai baju putih kemudian disebut hawariyyin, maka orang sufi disebut sufiyun.

Kata tasawuf merupakan derivasi dari kata shuf  yang jika dikonversi pada kalimat Fi’il Tsulatsi Mazid Khumasi menjadi tashawwafa dengan wazan تَفَعَّلَ  atau tafa`ala (dengan tasydid pada huruf ain) yang masdarnya تَصَوُّفاً  / tashawwuf  artinya memakai bulu domba seperti kalimat taqammasha yang artinya memakai gamis, tasarwala, artinya memakai celana.