Ansor Subang Tolak Pemulangan WNI Eks ISIS

Share to :

Subang, NUSubang.or.id – Warga Negara Indonesia (WNI) yang menjadi pengikut ISIS di Irak dan Suriah dikabarkan ingin kembali pulang ke tanah air, keinginan tersebut didorong karena situasi dan kondisi di negara yang idam-idamkannya itu semakin hari kian tak menentu dan tidak sesuai dengan harapan dan cita-cita sebelumnya.

Ketua PC GP Ansor, Subang Asep Alamsyah HD

Mengenai hal ini, Pengurus Cabang Gerakan Pemuda Ansor Kabupaten Subang mengajak masyarakat mengingat kembali perjalanan mereka sebelum memutuskan berangkat ke Suriah untuk bergabung dengan kelompok ISIS.

“Dulu mereka mencaci maki NKRI dengan sebutan thogut, dzalim, kafir dan sebagainya, sekarang ingin kembali ke tanah air?itu namanya menelan ludah sendiri,”tegas Ketua GP Ansor Subang, Asep Alamsyah HD usai mengikuti rapat Reboan PCNU Subang yang digelar di Kantor PCNU setempat, Jalan Darmodiharjo, Nomor 4, Kelurahan Sukamelang, Subang. Rabu (12/2)

Ditambahkannya, kepulangan para WNI eks ISIS ke tanah air diprediksi akan lebih banyak madaratnya dibanding manfaatnya, oleh sebab itu GP Ansor Subang sangat mendukung sikap Pemerintah untuk menolak kepulangan mereka karena saat ini masih banyak masyarakat yang membutuhkan perhatian dan sentuhan pemerintah.

“Jumlah mereka itu kan hanya ratusan, tidak sebanding dengan jutaan orang yang sudah terbukti setia terhadap NKRI dan membutuhkan perhatian pemerintah,”tegasnya

Jika mereka pulang, sambung Asep, dikhawatirkan akan terjadi konsolidasi internal sehingga bisa membangunkan sel-sel teroris yang sedang tidur, hal ini tentu saja akan memberikan dampak yang buruk terhadap kehidupan berbangsa dan bernegara.

“Para kiai dimana-mana membangun nasionalisme dengan kampanye hubbul wathan minal iman, jika mereka datang bisa jadi bangunan nasionalisme itu mereka runtuhkan kembali,”ujarnya

Lebih lanjut Asep menambahkan, mungkin benar saat ini mereka berjanji akan tunduk dan patuh pada tatanan kehidupan yang ada di NKRI, namun janji tersebut muncul bukan dari lubuk hatinya yang paling dalam namun lebih karena tertekan oleh situasi dan kondisi yang memilukan.

“Bisa jadi ketika sudah pulang ke Indonesia, karena sudah berada di zona nyaman kemudian doktrin-doktrin yang sudah mereka yakini itu tumbuh kembali dan akhirnya kembali lagi membuat kegaduhan di bumi pertiwi,”pungkasnya. (NU Online/Aiz Luthfi)